Brodo, Sepatu Indonesia Berkualitas Dunia

Brodo-indonesiaBrodo kini bukan lagi nama yang terlalu asing bagi pecinta sepatu berkualitas. Jangan salah, Brodo bukanlah produk impor, tetapi asli buatan anak negeri dengan bahan-bahan bermutu tinggi. Meski masih berfokus ke pasar domestik, keunikan dan kualitas Brodo telah harum ke mancanegara. Produksinya pun kini telah mencapai ribuan pasang per bulan dan dipasarkan melalui aneka media termasuk toko online. Padahal diawal kemunculannya di tahun 2010 lalu, Brodo tampil malu-malu dan hanya dibuat 30 pasang sebulan.

Kedatangan Brodo empat tahun lalu ditengah persaingan merk sepatu branded, berawal dari kesulitan yang dialami Muhammad Yukka Harlanda dalam mencari sepatu formal. Maklum kakinya agak kebesaran dan hanya cocok dengan sepatu ukuran 46. Dipasaran Indonesia, ukuran ini memang sangat jarang, kalaupun ada harganya pasti selangit. Akhirnya Yukka mencoba memesan sendiri pada tukang sepatu.

Merasa sreg dengan sepatu pesanannya, iapun terpikir untuk memproduksi sepatu sendiri. Kebetulan gayung bersambut. Salah seorang rekannya, Putra Dwi Kurnia, tertarik untuk patungan mengembangkan bisnis. Dengan modal Rp7 juta, mereka mulai mencari supplier sepatu antara lain ke Cibaduyut yang memang dikenal sebagai salah satu sentra industri sepatu nasional. Yukka dan Putra yang berlatar belakang fakultas teknik ITB dapat menghasilkan 30 pasang sepatu dari modal Rp7 juta tersebut. Itulah produksi pertama mereka.

“Awalnya kami jual ke keluarga, teman, temannya teman, teman dari temannya teman teman. Istilahnya kami paksa mereka mau beli. Mau dicicil, utang, pokoknya harus beli,” kisah Yukka kepada majalah bisnis SWA.

Namanya juga modal pas-pasan dan pengalaman masih minim, mereka berdua sepakat bahwa produksi mereka harus laku supaya modal bisa berputar. Tetapi mereka bersyukur tidak terlalu paham bisnis sepatu sebelumnya. Jika saja mereka paham seluk-beluk industri sepatu, bisa jadi mereka mundur duluan. Menurut Yukka, persaingan dalam bisnis sepatu ternyata sangat berat karena banyaknya pemain. Masing-masing pemain sudah memelihara vendor-nya sendiri sehingga sempat menyulitkan bagi Yukka untuk mencari vendor yang berkualitas. Mereka menghabiskan waktu dua bulan untuk mencari supplier yang pas.

Begitu ketemu vendor yang cocok, Yukka dan Putra segera ngebut memproduksi sepatunya. Desainnya tentu saja tidak sembarangan. Mereka mencontoh produk-produk sepatu yang sedang tren di luar negeri dan yang memiliki desain bagus. Hanya saja mereka harus menekan harga supaya tidak semahal sepatu buatan luar negeri. Pemilihan material prima disertai desain yang berkualitas harus tetap dengan harga yang masuk akal.

Ketika dilempar ke pasar, sepatu karya mereka ternyata digemari. Padahal harganya lumayan, sekitar Rp375.000 per pasang. Pesanan pun mengalir. Ohya, ngomong-ngomong soal nama, Brodo diambil tanpa alasan khusus. “Kata itu diambil dari Bahasa Italia, artinya ‘kaldu ayam’. Kenapa Brodo, ya muncul begitu saja,” ujar Yukka.

Tips: Maksimalkan Media Sosial di Pemasaran Online

Menyadari tingginya potensi pasar, mereka pun menetapkan target-target bisnis dan menyusun strategi. Keduanya berangan bahwa bisnis ini sudah harus mapan dalam 4 tahun. Merek sudah harus dikenal dan memiliki segmen pasar yang baik. Yukka dan Putra pun memanfaatkan media sosial seperti Facebook untuk mengenalkan produk mereka. “Waktu itu saya mulai di facebook, kaskus, twitter, iseng upload-upload foto sepatu terus di tag-tagin ke teman, pokoknya yang gratis-gratis manfaatin deh,” kata Yukka kepada Okezone tentang strategi awal bisnisnya.

Tidak lupa mereka membuat fanpage dan meminta teman-temannya untuk Like sehingga komunitas follower-nya semakin banyak. Selanjutnya mereka pun rutin berkampanye mulai dari pemanfatan e-mail, lalu merambah ke Google Ads, Google Display Network, Twitter, Instagram, Path, hingga Youtube.

Pemasaran yang kuat di dunia online bukan berarti mereka meninggalkan pemasaran dunia nyata (offline). Brodo pun diperkenalkan melalui ajang-ajang pameran, dititipkan ke distro, department store dan sebagainya. Setelah merk dan kualitas dianggap telah lumayan mengakar, mulai akhir tahun 2011, Brodo fokus di pemasaran digital.

Untuk pemasaran digital awalnya dimulai dengan memaksimalkan periklanan melalui BBM (BlackBerry Massanger). Selanjutnya di bulan Agustus 2013, Brodo mengembangkan website sendiri sebagai toko online yaitu: www.bro.do. Kombinasi aneka pemasaran online tersebut sepertinya tepat. Menurut Majalah Chip (19/2), 90% penjualan Brodo dilakukan atau berawal dari interaksi di Facebook. Untuk mendukung aktivitas bisnis, sebuah toko Brodo didirikan di Jl. Kemang Selatan 8 No 64B, Jakarta sebagai pusat distribusi.

Strategi great design, great service rupanya berhasil membuat Brodo makin diperhitungkan di kancah fashion Indonesia. Beragam desain pun diproduksi dengan kisaran harga antara Rp 485.000 hingga Rp 745.000 (per July 2014). Soal potensi untuk menggarap potensi ekspor Yukka sepertinya belum berminat. “Kita masih fokus garap pasar dalam negeri, potensinya besar. Pasar luar negeri belum worth it, tidak efisien.”

Yang jelas, sepatu berkualitas tidak mesti impor. Ada Brodo dan sejumlah produk lokal lainnya yang bisa saja lebih bagus dari produk berlabel asing.

Iklan

Comments

  1. Selamat bro,Mantaft,,,,,

Anda punya masukan, informasi atau komentar? Sampaikan di sini..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: