Bagaimana Seharusnya Berinvestasi Lewat Asuransi?

Berita negatif asuransi berhembus dari Jiwasraya beberapa pekan ini disusul kabar serupa dari perusahaan asuransi Asabri cukup mengejutkan. Betapa tidak. Jiwasraya merupakan perusahaan BUMN milik pemerintah, yang selama ini dianggap memiliki reputasi baik.  Asabri sendiri merupakan perusahaan asuransi yang khusus mengelola dana sosial serta uang pensiun bagi pegawai TNI, Polri, dan PNS Kementerian Pertahanan. Keduanya mengelola dana dari masyarakat yang mengasuransikan diri.

Namun semua sudah terjadi. Dan publik pun terus mengikuti kemana dan bagaimana permasalahan ini akan diselesaikan.

Dari informasi yang cukup melimpah setiap hari di media massa tentang kedua perusahaan asuransi ini, dan apa yang kemungkinan terjadi dibalik tembok bisnis yang mentereng, setidaknya membuka juga pengetahuan dan fakta-fakta yang bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat.

Jiwasraya jelas merupakan salah satu nama besar dalam dunia asuransi Indonesia. Masyarakat yang memutuskan menitipkan uangnya pada perusahaan ini, tidak mengharapkan munculnya masalah dari sisi perusahaan. Bukankah asuransi justru menjadi pemberi solusi dikala nasabah mengalami masalah? Bila sakit, bila meninggal, terkena musibah, dan sebagainya.

Ternyata nama besar tidak menjamin operasional perusahaan akan menghindarkan nasabahnya dari masalah. Dalam kasus Jiwasraya, nasabah mungkin tidak bisa disalahkan. Masyarakat telah mempercayakan pilihan mereka karena ada nama besar pemerintah dibalik Jiwasraya, adanya pengawas jasa keuangan, pengurus perusahaan yang (dianggap) kredibel, dan sebagainya. Kurang apa lagi.

Jadi, masyarakat sebagai calon nasabah; sekali lagi, berhati-hatilah. Apa yang terlihat sangat terpercaya sekalipun, ternyata…

Investasi Saham Anjlok

Pemberitaan mengenai investasi saham yang dilakukan Jiwasraya dan Asabri bisa memberi pelajaran dari berbagai sudut. Yang pertama tentunya bahwa investasi saham yang justru kini sedang digalakkan berbagai pihak, tetap mengandung resiko.

Akan tetapi memang semua jenis investasi mengandung resiko bukan? Anda berinvestasi di usaha cafe yang dibangun teman atau keluarga sendiri, belum tentu bebas dari resiko. Investasi emas, belum tentu harga naik terus. Anda investasi di bawah bantal sekalipun tetap beresiko. Duit Anda pasti tidak berkembang, dan beresiko digondol maling.

Meski mengandung resiko, investasi saham tetap menjadi salah satu favorit pilihan investasi. Karena meski banyak saham-saham yang beresiko tinggi, faktanya banyak juga saham-saham yang memberikan imbal hasil yang tinggi dan melipatgandakan aset investornya. Ini soal analisa dan pilihan saja.

Baca juga: Kenali Resiko Investasi

Selain itu, perlu dicatat bahwa penurunan nilai saham, bukanlah kerugian sepanjang saham tersebut tidak dijual. Demikian pula nilai saham yang melambung tinggi, belum tentu sudah menjadi keuntungan. Semua itu adalah angka di atas kertas, eh … di layar HP atau komputer.

Selain itu, semua perusahaan besar, termasuk asuransi pasti menanamkan sebagian duitnya di saham, dengan harapan uang tersebut akan berkembang untuk menjadi salah satu sumber keuntungan. Jajaran orang terkaya di dunia ataupun di negeri ini juga adalah investor, pemilik saham di berbagai sektor.

Kembali ke cerita Jiwasraya dan Asabri, masyarakat yang selama ini berinvestasi di asuransi, sebetulnya tanpa sadar telah berinvestasi saham secara tidak langsung. Karena semua perusahaan asuransi memang berinvestasi saham. Hanya saja proses pemilihan saham apa yang akan dibeli atau dijual, diwakili oleh pihak asuransi. Nasabah tidak bisa mengontrol atau ikut memilih. Pengembangan dana investasi sepenuhnya dilakukan oleh perusahaan asuransi.

Apakah dana nasabah betul-betul berkembang? Hal itu hanya bisa diketahui bila nasabah rajin berkomunikasi dengan agen asuransinya atau bila ada laporan bulanan yang disampaikan ke nasabah. Bila tidak, maka nasabah tidak akan tahu nasib dana yang disetornya.

Perjelas, Maunya Asuransi ataukah Investasi?

Untuk memperkecil resiko berinvestasi, sebaiknya masyarakat menempatkan asuransi sesuai dengan tujuan sebenarnya, yaitu untuk perlindungan masalah kesehatan, terkait kematian ataupun perlindungan aset. Berinvestasi di asuransi sebetulnya kurang tepat karena dana yang disetor nasabah tidak sepenuhnya diinvestasikan. Sebagian dipotong untuk premi kesehatan dan pertanggungan jiwa serta biaya-biaya bulanan.

Jika tujuan utama adalah berivestasi, produk asuransi bukanlah pilihan tepat. Karena tujuan utama asuransi adalah perlindungan. Investasi, jika ada, hanyalah manfaat sampingan. Bukan yang utama.

Supaya hasil investasi memberi hasil maksimal, masyarakat sebetulnya bisa bebas memilih banyak pilihan instrumen investasi murni seperti deposito, saham, reksadana, emas, obligasi pemerintah,  fintech.dan sebagainya. Lalu untuk menghindari atau memperkecil resiko sebaiknya pelajari plus minus suatu investasi, lalu sesuaikan dengan tujuan investasi Anda. Apakah untuk janga panjang (di atas 5 tahun) ataukah jangka pendek.

Sebisa mungkin jangan menumpuk investasi Anda di salah satu pilihan investasi saja. Sebaiknya disebar ke beberapa pilihan, untuk memperkecil resiko dan memaksimalkan potensi keuntungan. Naik turunnya hasil investasi bisa dipantau dan dikelola sendiri.

Nah, dengan sedikit melakukan analisa, bertanya pada teman yang paham, membaca di internet dan medsos sebetulnya setiap orang bisa menjadi manajer investasi bagi dirinya sendiri atau keluarga. Karena mempercayakan uang dan nasib Anda pada perusahaan yang (kelihatan) terpercaya, belum tentu aman.

Dengan menempatkan asuransi dan investasi pada sudut pandang yang tepat, bisa jadi merupakan investasi terbaik Anda tahun ini. (AL)

Anda punya masukan, informasi atau komentar? Sampaikan di sini..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: