Iklan

Waspadai Menjamurnya Rentenir Online

Populasi Indonesia yang mendekati angka 300 juta saat ini sebagian besar diantaranya belum mendapatkan akses ke layanan keuangan (perbankan dan invetasi) formal alias inklusi keuangan rendah. Inklusi keuangan (financial inclusion) yang rendah dipercaya merupakan salah satu penyebab masih rendahnya PDB perkapita masyarakat kita meski perekonomian (GDP) kita berada di posisi 16 dunia.

Rendahnya inklusi keuangan membuat masyarakat rentan terhadap berbagai perilaku keuangan berpotensi negatif seperti rentenir, sampai dengan investasi bodong dan aneka jenis penipuan.

Studi Bank Dunia menunjukkan bahwa peningkatan inklusi keuangan sebesar 1 persen dapat memicu pertumbuhan PDB per kapita sebesar sekitar 0,03 persen. Peningkatan inklusi keuangan sebesar 20% suatu negara, akan mendorong penciptaan tambahan 1,7 juta pekerjaan baru. Tidak heran bila pemerintah berpacu dengan waktu meningkatkan inklusi keuangan, membuka akses masyarakat luas ke layanan keuangan formal.

Mulai dari kampanye menabung dan investasi, peluncuran tabungan tanpa biaya, sosialisasi serta pemberantasan investasi ilegal sampai dengan dukungan maksimal untuk usaha rintisan (start up) penyediaan layanan keuangan untuk pinjaman dan investasi. Sejumlah start up financial technology (fintech / tekfin) pun bermunculan menyediakan aneka layanan termasuk layanan pembiayaan – pinjaman berbasis masyarakat (peer to peer lending).

Berbeda dengan layanan perbankan yang sering ribet, fintech mengedepankan kemudahan akses layanan untuk menarik masyarakat investor ataupun calon peminjam. Masyarakat umum termasuk usahawan kini memiliki alternatif pendanaan. Apalagi jumlah fintech juga semakin banyak dengan aneka fiturnya masing-masing.

Masalahnya kemudian adalah kebanyakan fintech yang ada saat ini menerapkan beban bunga yang jauh lebih tinggi dari bunga perbankan, lembaga-lembaga pembiayaan, ataupun koperasi. Ada yang menerapkan tingkat bunga belasan persen perbulan, jauh lebih tinggi dari suku bunga normal yang bahkan dibawah 10% per tahun!

Penetapan suku bunga pinjaman yang tinggi jelas justru membahayakan keuangan sang peminjam.

Karenanya tidak sedikit yang beranggapan bahwa saat ini telah muncul rentenir-rentenir baru yang lebih canggih dan beriklan secara masif di dunia online. Rentenir berbasis online juga marak di luar negeri dan dikenal dengan sebutan shark loan.

Masyarakat pun bagai berhadapan dengan dua sisi yang kontradiktif. Layanan keuangan yang mudah, tetapi berpotensi justru membelit dengan cicilan tak berujung. Beberapa waktu lalu media nasional diramaikan dengan proses penagihan oleh suatu fintech yang dinilai kasar dan berlebihan karena menyebarkan informasi pribadi sang peminjam.

Karenanya masyarakat mesti waspada dan mempertimbangkan dengan matang sebelum memutuskan untuk meminjam dari suatu layanan peer-to-peer lending. Hitung kembali potensi tingkat bunga yang harus Anda bayarkan. Pastikan Anda bakal memiliki kemampuan untuk mengembalikannya. Hindari meminjam jika Anda tidak memiliki keyakinan sumber pendapatan atau hasil usaha untuk membayarnya. Jika tidak, maka Anda hanyalah bakal menjadi korban dari rentenir online.

Demikian juga saat membenamkan uang Anda dalam suatu bisnis peer to peer lending. Pahami benar perusahaan yang Anda pilih serta pemanfaatan dana Anda serta peluang kebaikannya bagi masyarakat. Jangan sampai Anda malah memfasilitasi perkembangan rentenir online.

Pemerintah sendiri diharapkan untuk mengawasi dan meregulasi fintech yang ada, agar tujuan mengejar peningkatan inklusi keuangan tidak membahayakan keuangan masyarakat yang pada akhirnya menjadi kontraproduktif terhadap perekonomian bangsa.

Iklan

Anda punya masukan, informasi atau komentar? Sampaikan di sini..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: