Kemampuan Berbahasa Inggris Mempengaruhi Isi Kantong

English_kursus_bahasa_Inggris_650Suatu penelitian yang menunjukkan bahwa para pekerja profesional yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris dengan baik bisa memperoleh gaji 30-50% lebih tinggi, dibandingkan mereka yang tidak dapat berbahasa Inggris dengan baik. Sebagaimana dilaporkan Kompas, Lars Berg, Executive Vice President EF Indonesia, menyampaikan bahwa dilain sisi, sebanyak 42% pimpinan perusahaan di Indonesia mengeluhkan kurangnya ketersediaan karyawan yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris yang baik.

Dino Martin, pimpinan perusahaan B-Recruit yang bergerak konsultan SDM, mengamini kondisi ini. Dino mengatakan, bahwa kemampuan bahasa Inggris sudah menjadi kriteria mutlak yang diinginkan perusahaan dari seorang calon pegawainya, bukan hanya di perusahaan multinasional, tetapi juga perusahaan lokal.

Keterbatasan pegawai yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris bisa jadi memberi nilai tambah tersendiri bagi karwayan yang mampu berkomunikasi dalam bahasa asing terpopuler ini. Memahami bahasa Inggris, berarti membuka diri seseorang untuk menyerap ilmu dan informasi yang tersedia luas dari seluruh belahan dunia. Tidak heran, Rhenald Kasali meyakini bahwa seseorang yang memiliki kemampuan bahasa asing, selain terlihat intelek, juga memiliki kemampuan pengambilan keputusan yang baik.

Mereka memiliki kemampuan mencari referensi lebih luas dibanding orang lain yang hanya bisa membaca informasi dalam bahasa lokal. Dengan wawasan yang lebih luas, seseorang bisa memberi masukan, pandangan, dan saran yang berbeda dibandingkan kebanyakan orang yang biasa-biasa saja. Tidak heran jika perusahaan akan memberi insentif yang lebih tinggi bagi mereka yang lebih produktif bukan?

Bahasa Inggris Bikin Makmur?

Perlunya menguasai bahasa asing semakin terasa jika membandingkan diri dengan negara-negara di kawasan Asean. Masyarakat Malaysia, Singapura dan Filipina sudah sangat terbiasa dengan lingkungan berbahasa Inggris. Pegawai pemerintah, karyawan, dan mahasiswanya sudah jamak berbahasa Inggris dalam setiap kesempatan, tanpa melupakan bahasa asli mereka. Lihatlah perusahaan-perusahaan Malaysia dan Singapura menggurita di berbagai negara, sampai ke Indonesia. Mulai dari perusahaan perkebunan, perbankan sampai MLM merajalela di seantero Indonesia.

Sebaliknya, jumlah perusahaan Indonesia yang bisa berekspansi ke luar negeri masih sangat sedikit. Potensi ekonomi dunia yang sedang berkembang menjadi tidak maksimal dimanfaatkan oleh masyarakat dan perusahaan Indonesia. Salah satunya karena kurangnya kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Dalam perundingan-perundingan internasional, pemerintah Indonesia sering berada di posisi yang dirugikan. Hal ini ditengarai karena kurangnya kemampuan bahasa Inggris para perwakilan kita saat beradu argumentasi di meja perundingan, dimana nasib bangsa dan generasi dipertaruhkan. Tidak heran bila (mantan) Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, mencetuskan ide bahwa salah satu syarat menjadi pegawai di Kementerian Perdagangan adalah memiliki nilai TOEFL minimal 600!

Berbahasa Inggris yang baik haruslah mutlak dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia. Di depan mata, tahun 2015, masyarakat ASEAN akan terintegrasi dalam satu zona ekonomi yang disebut Masyarakat Ekonomi Asean (Asean Economic Community – AEC). Artinya, selain arus barang akan semakin tidak terkontrol, arus tenaga kerja juga tidak dapat dibatasi ketat lagi. Tenaga kerja mulai dari karyawan, manajer, bahkan agen-agen pemasaran asuransi pun bisa lintas negara.

Tingginya kebutuhan perusahaan-perusahaan Indonesia akan pegawai yang memiliki kemampuan bahasa Inggris, dapat diperkirakan akan dipenuhi oleh pegawai atau mahasiswa asing dari negara-negara Asean. Hal yang sama, bisa menjadi peluang bagi masyarakat Indonesia untuk berkarya di negara lain, jika mampu berbahasa Inggris dengan baik.

Orang Indonesia Makin Pintar Berbahasa Inggris

Patut disyukuri bahwa peningkatan kemampuan berbahasa Inggris masyarakat Indonesia belakangan ini cukup mengagumkan. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh lembaga bahasa EF, kemajuan English Proficiency Index (indeks kemampuan berbahasa Inggris) Indonesia dalam 6 tahun terakhir merupakan yang tertinggi keempat diantara 60 negara yang disurvei. Puncak pertama diduduki oleh Swedia sementara Irak menempati posisi terakhir. Prestasi ini cukup menggembirakan mengingat pada tahun 2007, Indonesia masih berada di posisi 34 dari 44 negara, dan tahun 2013 di posisi ke-25 dari 60 negara yang disurvei.

Semoga kemajuan ini semakin berkontribusi terhadap berkembangnya perekonomian Indonesia yang kini menikmati tingginya arus investasi asing. Lars memperhitungkan bahwa dengan melesatnya perekonomian Indonesia, diperkirakan pada tahun 2030 Indonesia akan membutuhkan setidaknya 113 juta tenaga kerja yang mahir berbahasa Inggris. Semoga berkah ini tidak direngkuh orang asing, melainkan oleh rakyat Indonesia sendiri.

Nah, sudah siapkah Anda bersaing minimal dengan lingkungan kerja Anda saat ini? Apakah gaji Anda belum naik-naik dalam beberapa tahun terakhir, sementara karir teman Anda sepertinya lebih melesat? Bisa jadi jawabannya terletak pada kemampuan cas cis cus dalam bahasa Inggris.

So, let’s study English harder…

Artikel Terkait Lainnya:

Iklan

Anda punya masukan, informasi atau komentar? Sampaikan di sini..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: