Iklan

Macet Bikin Untung

macet_jakartaSiapa sih yang seneng kena macet? Udah rugi waktu dan rugi bahan bakar juga. Hampir seluruh penduduk Jakarta yang keluar pada jam-jam padat pasti mengeluh karena mengalami kemacetan, apalagi sejak dibangun LRT mulai September 2015. Tapi ternyata macet bisa bikin untung juga lho.. penasaran kan?

Seperti kata Ahok  “Mohon maaf, Jakarta akan tambah macet sampai 2018. Kami pastikan pembangunan transportasi massal dikerjakan habis-habisan”. Meningkatnya kemacetan di Jakarta memang dipicu oleh sejumlah proyek pembangunan infrastruktur. Saat ini, ada empat proyek infrastruktur yang membutuhkan penyelesaian tepat waktu. Mulai dari pembangunan jalur kereta ringan atau light rail transit (LRT), pengeboran terowongan mass rapid transit (MRT), penyelesaian tiga jalur layang bus Transjakarta, sampai pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota.

Dengan populasi kendaraan saat ini mencapai 17 juta dan pertumbuhan kendaraan 6ribu unit per hari jika didiamkan Jakarta akan mengalami puncak kemacetan pada 2022. Sebab itu, perlu keberanian untuk segera membangun jalur transportasi massal. Tanpa transportasi massal, sebanyak apa pun pembangunan jalan, kemacetan tak akan terurai.

Jalur MRT Jakarta, mega proyek transportasi modern. (Gambar: metro.tempo.co)

Jalur MRT Jakarta, mega proyek transportasi modern. (Gambar: metro.tempo.co)

Fenomena gojek dan grabbike pun akhirnya, dapat menjadi salah satu solusi pengurai kemacetan di jkt, banyak orang yang sudah mengurangi naik taksi dengan naik gojek, untuk beli apapun kita gak perlu keluar rumah hanya cukup pesan lewat gojek. Ini pun mendorong pendapatan masyarakat kelas bawah. Tapi gimana buat kita yang mau gak mau harus melewati jam macet dan jalur macet karena pembangunan LRT dan MRT? Cara paling bijak adalah menikmati kemacetan tersebut.

Nah daripada terus mengeluh karena macet, yuk apa yang kita bisa manfaatkan dari macet ini. cari tau siapa yang bikin macet? Siapa yang coba buat solusi dari kemacetan? Sampai kapan macet ini akan berlangsung?

Nah pernah sadar gak sih pembangunan LRT dan penyebab kemacetan lain di Jakarta, siapa yang bangun, perusahaan mana aja yang bangun itu, kira-kira kita bisa ikut gak dalam pembangunan tersebut?

Pernah baca link berita ini Sembilan BUMN sinergi bangun “LRT” Rp23,8 triliun (http://www.antaranews.com/berita/517023/sembilan-bumn-sinergi-bangun-lrt-rp238-triliun)

Seperti kita tahu pada Pemerintahan jokowi ini banyak pembangunan infrastruktur, apalagi pembangunan LRT dan MRT yang sangat membuat macet, namun sebaiknya kita tidak hanya mengeluh terhadap macet yang akan berlangsung sampai 3 tahun ke depan ini saja, namun gunakan momen pembangunan seperti sekarang ini untuk membeli saham-saham infrasturktur dan perbankan yang mendukung pembangunan tersebut.

Jakarta saja masih kekurangan pembangunan Infrastruktur, tentu bisa dibayangkan perlunya pembangunan Infrastruktur di daerah-daerah lainnya dari Sabang sampai Merauke, dan semuanya sudah masuk dalam program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) hingga 2025 oleh pemerintah dengan kebutuhan dana 4700 Triliun Rupiah

Terkait link berita Pembangunan LRT ini, Sembilan BUMN saling bersinergi untuk proyek tersebut. jika kita lihat di penutup proyek di jalan ada tulisan Adhi Karya (ADHI) , Waskita Karya (WSKT), Wijaya Karya (WIKA) selain itu BUMN tersebut di dukung oleh perbankan Pemerintah seperti BBRI, BMRI, BBNI dan BBTN.

Coba yuk di survey sendiri beberapa saham infrastruktur dan perbankan BUMN tersebut harganya 3 tahun yang lalu, dibandingkan dengan yang sekarang ada yang naik 20% bahkan ada yang sampai 300%, sebagaimana terlihat di tabel di bawah ini:

No SAHAM 3 Des 2015 3 Des 2012 Kenaikan
1 ADHI 2,210 1,810 22.1%
2 WSKT 1,670 430 288.4%
3 WIKA 2,815 1,580 78.2%
4 BBRI 11,250 7,05 59.6%
5 BBNI 4,995 3,650 36.8%

Itu baru keuntungan dari kenaikan nilai saham. Soalnya, dengan membeli saham Anda akan berpotensi mendapat 3 keuntungan

  1. Kenaikan harga saham
  2. Deviden per tahun
  3. Keuntungan karena Right Issue

Nah daripada pusing mikirin macet lebih baik kita beli sahamnya dan biarkan perusahaan kita menyelesaikan pekerjaannya sampai dengan 3 tahun kedepan.

Baca juga: Mengenal Investasi Saham

Alasan kami menulis artikel ini karena masih rendahnya literasi keuangan masyarakat tentang saham kenyataannya belum lebih dari 500ribu orang di Indonesia yang punya investasi ini, artinya belum ada 0,2% penduduk Indonesia yang memiliki saham, angka yang sangat kecil dibandingkan Malaysia dan Singapura yang mencapai 13% dan 30% dari populasi penduduknya.

Dengan kita membeli saham dalam negeri yang sudah IPO artinya kita membantu bangsa ini dalam 2 hal: pertama ikut membantu pembangunan nasional dan  kedua mengurangi 65% porsi kepemilikan asing terhadap Saham yang Diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. (Pandji Harsanto).

Pandji Harsanto_80(Pandji Harsanto adalah seorang perencana keuangan independen yang aktif menyebarkan ilmu perencanaan keuangan melalui media seperti blog, media cetak dan dialog live Kompas TV. Pandji, panggilan akrabnya juga seorang kontributor pada kolom Atur Uang di majalah dwimingguan Cita Cinta, Rakyat Merdeka online. Tulisannya juga dapat ditemui di sejumlah media ternama tanah air. Ia juga rutin membagi pikirannya melalui website pribadi: PandjiHarsanto.com)

Iklan

Anda punya masukan, informasi atau komentar? Sampaikan di sini..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: