Adi Pramudyo, Insinyur Teknik yang Sukses Bertani dengan Omzet Ratusan Juta Rupiah

Adi_Pramudya_Kesulitan bisa menjadi pemicu kesuksesan. Setidaknya hal ini bisa terlihat dalam kehidupan Adi Pramudyo, pemuda usia 22 tahun lulusan Teknik Industri Universitas Gunadharma ini malah sukses di bisnis tanaman rempah. Setidaknya Rp300 juta omzet dibukukannya setiap kali panen!

Kisah sukses Adi bisa jadi bermula dari darah wirausaha yang mengalir dari kedua orang tuanya yang berjualan kelontong. Hanya saja, ketika Adi masih duduk di bangu SMP, toko kelontong sumber penghidupan keluarganya habis terlalap api. Keluarganya pun harus memulai segalanya dari nol lagi. Adi mengenang, waktu itu ia menyerahkan seluruh tabungannya sekitar Rp500 ribu kepada sang ibu untuk membayar aneka tagihan.

Bisa jadi masa-masa itu merupakan saat terberat dalam kehidupan Adi dan keluarga. Namun, berada di titik terendah kehidupan membuat Adi termotivasi untuk bangkit dengan cita-cita hidup mandiri dan membahagiakan kedua orang tuanya.

Setamat SMU, Adi dengan saran sang kakak mencoba peruntungan dengan berbagai usaha. “Kakak saya bilang, untuk dunia kerja lima tahun ke depan itu susah, tapi untuk buka usaha peluangnya masih besar,” kata Adi sebagaimana dilansir KOMPAS.

Ia memulai usahanya dengan berjualan pisang coklat dengan menggunakan gerobak, sambil mengikuti pendaftaran kuliah di Universitas Gunadharma, Depok. Namun usahanya hanya sempat berjalan delapan bulan karena tidak adanya tenaga yang dapat membantunya. Kesibukan kuliah juga ikut menyita perhatiannya.

Namun semangat wirausahanya tetap membara. Adi bertekad untuk bisa membiayai kuliahnya sendiri. Aneka pekerjaan pun disambar, termasuk menjajakan madu sampai deterjen dari rumah ke rumah.

Menjadi Petani

Bepergian terkadang bisa membuka peluang. Waktu itu Adi berkunjung ke kenalan di Jonggol, Jawa Barat yang kebetulan berbisnis pertanian. Di sana ia melihat lahan yang luas tetapi terlantar tidak dimanfaatkan. Ide bisnisnya meletup. Adi ingin menggarap lahan kosong tersebut.

Saat itu tahun 2011, ia pun meminjam dana Rp2,5 juta kepada kakaknya untuk menyewa lahan 1 hektare.

Dari situ Adi bertekad untuk menekuni usaha agribisnis. Pada 2011, pria lulusan Teknik Industri ini menyewa lahan dengan luas tidak sampai 1 hektare (ha) seharga Rp 2,5 juta. Uang tersebut dia dapat dari hasil meminjam uang sang kakak.

Ia mulai dengan menanam singkong. Menurutnya pemasaran singkong relatif mudah dan dapat dibuat menjadi berbagai produk lain untuk dijual. Ternyata perhitungannya meleset. Harga jual hasil panen singkong tidak sebaik yang diperkirakan.

Adi_Pramudya_singkong

Adi di tengah kebun singkongnya dulu.

Namun Adi tak lantas patah semangat. Kali ini ia menanam lengkuas pada tahun 2012 di lahan seluas 2 ha. Ia juga menanam ragam rempah lainnya seperti lengkuas, kunyit dan kencur. Ternyata usaha rempah cukup menjanjikan. Setiap kali panen, ia bisa mendapatkan setidaknya Rp70 juta per hektare. Labanya pun sekitar 40-50%, jauh lebih tinggi dari laba bertani singkong. Di tahun berikutnya Adi sudah mulai bisa memperluas lahan kebun rempahnya menjadi 5 hektare. Dari lahan seluas itu, sekitar 4 ha digunakan untuk menanam lengkuas dan sisanya untuk lahan tanaman kunyit.

Permintaan pun mulai berdatangan dari pasar-pasar sekitar Bogor. Padahal kemampuan produksi terbatas. Belum lagi jarak panen yang bisa mencapai 8 bulan. Untuk mengatasi masalah tersebut, Adi kemudian membentuk kelompok tani yang bisa mensuplai pasokan rempah. Dukungan para petani pun membantunya bisa mengekspor rempah ke luar negeri seperti Belanda dan Jerman melalui perusahaannya, CV Anugrah Adi Jaya.

Semangat Bertani

Sedikit merunut ke belakang, apa sih yang mendorong Adi memilih memasuki dunia pertanian?

“Kalau semua anak muda begitu (memilih pekerjaan kantoran atau bisnis fashion), lalu siapa yang mau jadi petani? Padahal semua orang butuh makan,” kata Adi mantap.

Keteguhan menjalani usahanya semakin membuahkan hasil. Ditahun 2014 lahannya sudah semakin luas mencapai 11,5 ha. 30 persen lahan merupakan miliknya sendiri. Sisanya masih berstatus sewa. Pertengahan tahun ini ia mentarget omzet Rp750 juta!

Menghadapi tahun 2015, pria berusia 22 tahun ini telah menyusun rencana-rencana strategis. Ia juga mencanangkan mulai menanam di pertengahan 2015 nanti. Hanya saja dia memerlukan modal lebih besar. Menurutnya jahe membutuhkan setidaknya Rp 70 juta-Rp 80 juta untuk setiap hektare-nya.

Sadar bahwa usahanya bisa jatuh bangun, Adi memikirkan rencana-rencana lain untuk menghadapi fluktuasi harga, perubahan cuaca maupun potensi kerugian lainnya. Ia mengaku cukup hati-hati mengelola biaya usahanya. Selain itu Adi merencanakan untuk membuat koperasi serta menghasilkan produk rempah kering, sampai minuman berkhasiat. Mengubah kebunnya menjadi kawasan agrowisata juga terdapat dalam susunan rencananya. Ia merencanakan telah mengelola kebun agrowisatanya dalam 5 tahun mendatang.

Tetapi Adi masih menyimpan ambisi besarnya. Ia ingin menjadi eksportir rempah yang menguasai pasar-pasar Eropa. Harapannya, rempah-rempah Indonesia akan menguasai pasar rempah dunia.

Adi Pramudyo, salah seorang sosok muda inspiratif yang membuktikan bahwa menjadi petani merupakan pilihan profesi yang prospektif bila dikerjakan dengan tekun dan profesional. (Kompas. Foto: dok pribadi)

 

 

Iklan

Comments

  1. Bos…mohon dikirimkan kontak Pak Adi…saya mau benchmark ke tempat beliau.

Anda punya masukan, informasi atau komentar? Sampaikan di sini..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: