Iklan

Pariwisata: Sumber Dollar yang Tak Tergarap Maksimal

Tidak semua negara atau daerah memiliki kekayaan alam yang sanggup menghidupi rakyatnya. Negara-negara Eropa, Jepang, dan Korea merupakan contoh negara yang miskin sumber daya alam. Namun negara-negara tersebut kini termasuk dalam jajaran top dunia. Selain karena keuletan, pariwisata belakangan menjadi salah satu tonggak penggerak roda ekonomi mereka.

Negara-negara Timur Tengah yang kaya minyak, menyadari bahwa kekayaan alam suatu saat akan habis, kini mulai menggenjot pendapatan dari sektor pariwisata. Dalam hal ini Uni Emirat Arab dapat menjadi contoh pembangunan pariwisata termaju di dunia Arab. Berbagai pembangunan skala besar dibuat untuk menyulap gurun pasir nan tandus menjadi hutan tropis, mall  modern atau gunung salju ala Alpen. Jelas negara-negara Timur Tengah belajar banyak dari Yaman yang dahulunya juga kaya minyak, tetapi kini jatuh miskin dan kelaparan bagai anak tiri di tengah negara-negara Arab yang makmur.

Amerika Serikat, Australia, China, merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Akan tetapi mereka juga menggunakan kekayaan mereka untuk mendatangkan pendapatan melalui pariwisata. Mereka sadar benar akan potensi pariwisata sebagai sumber dollar untuk membiayai pembangunan, sekaligus sebagai persiapan mengantisipasi kekayaan alam yang akan habis suatu saat nanti. Mereka getol berpromosi, menjual paket pariwisata mulai dari kalangan atas, pebisnis, sampai pelajar dan mahasiswa. Berlomba-lombalah orang-orang kaya baru dari negara berkembang ‘menyetor’ duit mereka ke sana.

Negara-negara gurun harus bekerja keras untuk “menciptakan” keindahan.

Indonesia sebagai negara tropis sebetulnya sangat memikat dari sisi pariwisata. Alam Indonesia sangat Indah dibandingkan alam negara-negara non-tropis. Warga Eropa dari utara atau Australia dari Selatan, sangat mendambakan paparan matahari tropis yang sangat melimpah di Indonesia. Budaya Indonesia yang beraneka rupa, jelas merupakan kekayaan yang tidak mereka temui dimanapun. Tidak ada alas an bagi Indonesia untuk ketinggalan dalam perlombaan primadona ekonomi bernama pariwisata.

Lalu apa kendalanya pembangunan pariwisata?

Sebagaimana sektor lainnya, pariwisata jelas memerlukan partisipasi semua pihak. Pariwisata sangat terkait dengan keamanan dan kenyamanan. Tidak mungkin orang memilih berwisata ke negara yang penuh kerusuhan, demonstrasi dan tidak menerima perbedaan. Poin ini mungkin mengakar ke pekerjaan para orang tua, guru – dosen, petinggi agama, media massa, dan petugas keamanan. Pernakah Anda mendengar bahwa banyak yacht asing yang hanya di parkir di lepas pantai Indonesia, menikmati keindahan bahari kita, tetapi tidak berani menyandarkan perahunya ke tanah Indonesia?

Pariwisata yang maju harus menjadi tanggung-jawab semua komponen masyarakat. Mahasiswa yang doyan tawuran, politisi yang kerap mengundang demonstrasi, ketidakmampuan menghargai perbedaan, kelemahan aparat dalam menciptakan kemanan dan kenyamanan serta kurangnya kesadaran masyarakat untuk memelihara kebersihan dan keindahan sekitar bisa berakibat negatif terhadap upaya pengembangan pariwisata. Jelaslah bahwa Kementerian atau Dinas Pariwisata bukan penentu kunci kesuksesan dunia pariwisata.

Pawai budaya Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat (Epic.co.id)

Disaat berbicara tentang pariwisata, para pejabat sering mengedepankan kekurangan infrastruktur pendukung seperti bandara atau jalanan sebagai kendala. Tentu saja ini hal tidaklah salah. Akan tetapi perlu diketahui juga bahwa tidak sedikit wisatawan yang justru menikmati wisata bertualang di daerah-daerah yang sulit di jangkau. Saat ini Bali masih menempati posisi teratas sebagai tujuan wisata Indonesia. Namun banyak juga wisatawan yang mengeluhkan bahwa Bali sudah sangat padat, terlalu bule dan mahal. Jika daerah Anda masih terisolir, bisa jadi itu menjadi nilai jual tersendiri yang justru tidak dimiliki daerah lain.

Creative Marketing

Pariwisata bagaikan produk jualan yang ditawarkan kesana kemari dengan harapan akan diserbu banyak pembeli. Kemasan produk pariwisata haruslah dikemas dengan baik, menarik dan tentu tidak mengada-ada. Ketika pembeli merasakan produk tersebut, pastikan pembeli terkesan dan ingin membeli lagi. Jika perlu, ini tantangannya: buat si pembeli menjadi tenaga marketing gratis yang akan mempromosikan jualan pariwisata kita kepada orang lain. Pada tingkat lebih tinggi, pastikan Indonesia atau daerah kita muncul di deretan atas dalam benak orang yang sedang merencanakan pariwisata.

Promosi merupakan bagian tak terpisahkan dari bisnis menjual, termasuk menjual pariwisata. Pastikan langkah-langkah promosi yang diambil benar-benar efektif dan kalau bisa efisien alias tidak menguras banyak dana masyarakat. Berpikir ekonomis bukan? Baru-baru ini dinas pariwisata salah satu pemda di Sulawesi dikritik atas salah kaprah promosi di Singapura yang menonjolkan wajah sang gubernur di taksi-taksi Singapura. Bukannya dipuji, langkah ini malah dikritik sebagai bagian dari kampanye gubernur Sulsel.

Tidak sedikit pemda yang memanfaatkan pariwisata sebagai ajang kampanye terselubung. Sejumlah billboard raksasa mempromosikan budaya daerah dengan tampilan utama wajah kepala pemda, tentu dibiayai oleh uang rakyat dari APBD. Bukankah akan lebih efektif jika wajah-wajah itu diganti dengan gambar atraksi budaya atau keindahan alam daerah tersebut?

Indahnya Raja Ampat, Papua Barat. (coffeewithasliceoflife.com)

Promosi wisata ke luar negeri sering menjadi pilihan pemda dan pemerintah pusat. Tentu hal ini pun tidaklah salah untuk selalu terlihat dan hadir di pasar-pasar pariwisata dunia. Anehnya, sudah sejak lama Indonesia selalu aktif dalam aneka Tourism Board di berbagai belahan dunia, tetapi kunjungan wisatawan ke Indonesia tidak beranjak dari angka 6 – 7 juta setahun.

Malaysia yang baru belajar intensif tentang pariwisata kini menikmati duit dari setidaknya 13 jutaan wisatawan mancanegara setiap tahun. Ini belum termasuk mahasiswa dan pelajar asing yang membawa uang mereka ke berbagai institusi Malaysia. Lalu apa yang salah dengan Indonesia? Lebih penting lagi: mengikuti pameran pariwisata atau Tourism Board di luar negeri ternyata tidak berdampak signifikan terhadap dunia pariwisata Indonesia.

Bukan Maldives, ini Pulo Cinta di Gorontalo. (Kompas.com)

Pariwisata merupakan dunia yang dinamis serta membutuhkan kreatifitas. Salah satu terobosan yang kurang dimanfaatkan adalah internet. Pemerintah pusat sudah mulai memanfaatkan media internet melalui beberapa website, tetapi menu-menu yang ada masih belum dinamis  dan penjelasan terlalu singkat untuk memenuhi hasrat pembacanya. Kemungkinan isi website juga tidak nyambung dengan situasi bangsa yang nyatanya masih riuh rendah. Sebuah tantangan bagi pihak-pihak terkait untuk menunjukkan bahwa Indonesia bukan cuma Jakarta yang penuh hiruk pikuk…tetapi ada juga juga Medan, Manado, Taka Bonerate, Togean Islands, Raja Ampat, Banda, Toraja….dst…dan tentu saja Bali yang tenar.

Selain itu, setiap pemda saat ini seharusnya memiliki website yang khusus untuk mempromosikan potensi wisata daerahnya secara murah meriah. Website yang efektif merupakan media promosi non stop, 24 jam sehari 7 hari. Beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan saat membuat website KHUSUS pariwisata adalah:

  • Dedikasikan website tersebut untuk pariwisata, jangan menjadi ajang kampanye. Jika perlu, wajah kepala daerah tidak nongol di situ karena sungguh tidak relevan. Jangan satukan website pariwisata dengan website resmi pemda.
  • Integrasikan website tersebut untuk mendukung pelaku pariwisata yang ada. Tampilkan hotel-hotel, restaurant, travel yang ada di daerah Anda. Ini bentuk terima kasih dan dukungan pemda kepada pelaku pariwisata yang telah taat membayar ‘royalti’ wisata ke pemda.
  • Tampilkan keunikan daerah, yang tidak dimiliki negara atau daerah lainnya, sehingga wisatawan memilih daerah Anda, bukan daerah lain. Ini kompetisi bung.
  • Jika ada even-even budaya, usahakan informasinya telah tampil di website beberapa bulan sebelum pelaksanaan agar wisatawan dapat merencanakan perjalanan dengan baik.
  • Update berita setiap saat. Pengunjung website tidak menyukai website yang isinya itu-itu saja, menandakan tidak adanya detak kemajuan yang perlu diberitakan di daerah tersebut. Memberitakan kebijakan pemerintah pusat yang relevan dengan kemajuan daerah juga tentulah menarik. Jadi tidak melulu mesti tentang daerah tersebut.
  • Integrasikan website dengan aneka situs jejaring social. Didalam dunia yang semakin kecil ini, Pemda harus ‘friend’ dengan sebanyak mungkin orang, baik nasional maupun internasional. Ingat, friend Anda bisa jadi tenaga marketing Anda bukan? Gratis lagi.
  • Jangan ragu untuk belajar. Bandingkan website Anda dengan website ‘Pemda’ lainnya di dunia yang sukses membangun pariwisata lokal. Tentu ini bisa dilakukan dengan mudah di depan meja kerja tanpa harus studi banding.

Maksimalkan Apa Ada

Sebagaimana disebutkan di atas, Indonesia dikaruniai alam yang luar biasa indah. Matahari saja sudah menjadi modal yang memadai. Tradisi-tradisi dalam masyarakat, jika terpromosikan dengan baik, akan sangat menarik bagi wisatawan. Tahukah Anda bahwa bermain lumpur saja mampu mendatangkan jutaan wisatawan ke berbagai daerah di dunia?

Boryeoung Mud Festival 2012 (Pict by: amusingplanet.com)

Kota Boryeong terletak sekitar 200 km arah selatan Seoul, Korea Selatan. Sejak tahun 1998, kota kecil ini menciptakan‘mainan’ wisata yang murah meriah yaitu bermain lumpur setiap musim panas. Acara tahunan ini berlangsung selama 9 hari, dihadiri jutaan wisatawan local dan mancanegara. Acara yang digelar bulan July 2012 lalu merupakan penyelenggaraan yang ke-14 dan dibanjiri sekitar 2,2 juta wisatawan. Dapat dibayangkan jika wisatawan tersebut datang ke daerah Anda.

Mainan lumpur ini juga merupakan jualan wisata yang ada di berbagai belahan dunia. Anda dapat melihat di google tradisi kreatif yang DICIPTAKAN. Ada tradisi lempar tomat di Spanyol, lomba gendong istri melalui lumpur di Finlandia dan USA, lari lumpur di Australia, Inggris dll.  Inti yang ingin disampaikan di sini bahwa pariwisata, sekali lagi merupakan dunia kreatif. Dengan memaksimalkan potensi-potensi yang ada di daerah masing-masing, pemda dapat bersinergi dengan masyarakat dan pelaku industri pariwisata untuk menciptakan even tahunan atau 6 bulanan yang akan menyedot para pelancong. Be creative, jangan lelah mencipta. Lari lintas alam melewati perbukitan pedesaan yang permai bisa menjadi ajang yang menarik banyak orang dan mudah dilaksanakan. Apa lagi?

Kecenderungan pola pikir bahwa pariwisata mesti dibangun dengan modal besar, merupakan penanda kematian kreatifitas. Negara-negara Arab memang harus setengah mati membuat bangunan aneh-aneh dan mahal untuk menarik wisatawan karena tanah mereka begitu membosankan dan tandus. Singapura harus membangun gedung dan aneka atraksi wisata karena negaranya sangat kecil dan sempit. Berbeda dengan Indonesia yang komplit dengan pegunungan, hutan, pantai, ditopang keragaman budaya.

Indonesia sudah memiliki segalanya. Pemda dan masyarakat tinggal perlu memaksimalkan apa yang ada dengan sentuhan kreatif untuk menambah nilai jual.

Obyek wisata ada dalam keseharian kita..

Salah satu sumber daya penting yang sering dilupakan adalah wisatawan domestik. Indonesia saat ini tengah bersinar di panggung internasional, terutama karena pertumbuhan kelas menengah ke atas yang cukup tinggi. Sekitar 30 – 40-an juta masyarakat Indonesia berada di level ini. Bandingkan dengan penduduk Australia yang hanya 23 juta atau Malaysia yang hanya 30 juta. Kelas menengah Indonesia tengah bertumbuh sebagai kekuatan ekonomi. Mereka memiliki pendapatan yang memadai termasuk untuk memenuhi kebutuhan kemewahan seperti berwisata.

Sayangnya, karena wisata dalam negeri kurang digarap, masyarakat Indonesia justru menjadi penyumbang terbesar bagi pariwisata Malaysia dan Singapura. Kecenderungan masyarakat Indonesia untuk berwisata ke luar negeri juga sangat meningkat dari tahun ke tahun seiring pendapatan per kapita yang terus naik. Perusahaan travel asing pun gencar berpromosi di media Indonesia mengail pundi-pundi Rupiah lewat produk pariwisata mereka.

Jangan hanya sibuk menyalahkan masyarakat yang memilih ke luar negeri. Mau tidak mau pemerintah Indonesia, harus menggalakkan pariwisata domestik untuk mencegah Rupiah lari ke negara-negara lain. Tunjukkan dengan langkah-langkah nyata bahwa Indonesia memang jauh lebih indah, menarik dan nyaman untuk berwisata.

Dengan dunia yang semakin sempit, persaingan semakin ketat dan terbuka. Pemerintah daerah tidak bisa bisa lagi menghindari tantangan ini. Pemerintah pusat dan daerah mesti berlomba menunjukkan keunggulan wisata agar masyarakat Indonesia sendiri mau mengunjungi Anda dan menghabiskan anggaran wisata mereka di dalam negeri, bukan di negara lain. Karena potensi ekonomi dari sungguh besar untuk menggerakkan perekonomian.

Tana Toraja, anugerah keindahan yang terjaga.

Ide Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk memajukan pariwisata lewat pengembangan desa wisata merupakan langkah yang cukup maju. Program ini seketika menempatkan masyarakat sebagai pelaku pariwisata dan berpotensi mendapatkan keuntungan langsung dari industri pariwisata. Dengan desa wisata, para turis dapat berwisata di tengah masyarakat karena kehidupan keseharian masyarakat merupakan atraksi wisata yang alami dan sangat menarik. Para wisatawan bisa jadi lebih menikmati tinggal atau berjalan-jalan di desa wisata, ketimbang mengunjungi obyek wisata. Hanya saja, beberapa daerah cenderung menunggu kucuran dana pusat untuk program ini, seolah program ini semata keinginan pemerintah pusat. Padahal sejatinya desa wisata sebetulnya bisa dikembangkan oleh masyarakat desa sendiri, diurus oleh karang taruna (misalnya) setempat.

Tradisi pekan budaya yang menjamur saat ini masih sarat dengan kepentingan politis pemda. Hal ini terlihat dari upaya promosi yang setengah hati dan tidak menjangkau pasar pariwisata internasional. Bisa jadi karena targetnya memang hanya penduduk lokal yang akan berpartisipasi dalam pilkada, bukan wisatawan. Pelaksanaan pekan budaya masih diwarnai orasi berkepanjangan dan dominasi warna-warna partai berkuasa di daerah tersebut.

Jika memang tidak berkontribusi terhadap kemajuan pariwisata, pekan budaya bisa saja mengarah ke pemborosan keuangan daerah yang cenderung koruptif. Pekan budaya haruslah dirancang dan disiapkan dengan baik, melibatkan masyarakat dan pelaku profesional dunia pariwisata agar dapat berkontribusi maksimal bagi pembangunan pariwisata. Bukankah jika daerah maju, dengan sendirinya masyarakat akan menilai sebagai bagian dari prestasi pemda, dan tidak ragu memilih kembali jika memungkinkan.

Setelah berbicara panjang lebar tentang pariwisata, perlu ditekankan kembali kunci sukses pariwisata adalah keamanan dan kenyamanan, kreatifitas, inovasi dan pemasaran yang efisien tapi tepat sasaran. Faktor lainnya hanyalah pendukung yang tak pantas untuk terus disalahkan. Semoga pariwisata Indonesia semakin maju. (Adeltus Lolok. Adelaide 13 Okt.2012)

 

Iklan

Anda punya masukan, informasi atau komentar? Sampaikan di sini..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: