Terjerat Paylater dan Rendahnya Pengetahuan Keuangan Millenial & Gen Z

Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa generasi muda menyumbang porsi terbesar kredit macet pinjol dan paylater. Fenomena ini mengungkap satu masalah mendasar: literasi keuangan generasi muda masih rendah, meski mereka adalah pengguna paling aktif teknologi keuangan.

Data Terbaru OJK & BI: Kredit Macet Didominasi Milenial & Gen Z

Dalam laporan OJK mengenai industri pinjaman online alias fintech lending tahun 2024, ditemukan bahwa:

  • 64,8% pengguna pinjaman online berasal dari rentang usia 19–34 tahun (Milenial & Gen Z).
  • Kelompok usia ini menyumbang lebih dari 52% total kredit macet (TWP90).
  • Akumulasi pinjaman macet fintech lending per September 2024 mencapai Rp 2,47 triliun, dan tren ini meningkat pada sektor konsumtif.

Yang mengkhawatirkan, sebagian besar kredit macet berasal dari pengguna yang memakai pinjaman untuk:

  • belanja online,
  • gaya hidup,
  • kebutuhan non-produktif.

Bank Indonesia mencatat lonjakan pengguna cicilan ala paylater:

  • Transaksi paylater meningkat 54% secara tahunan (YoY) pada 2024.
  • 72% pengguna paylater berusia di bawah 35 tahun (didominasi Milenial & Gen Z).
  • BI menemukan bahwa sekitar 40% pengguna tidak membaca syarat & ketentuan secara lengkap sebelum mengaktifkan limit paylater.

Tanpa pengetahuan keuangan yang baik, paylater menjadi pintu jebakan masuk perilaku konsumtif, karena pengguna tidak merasakan “nyeri finansial” saat belanja. Akibatnya, banyak yang mengambil cicilan melebihi dari kemampuan membayar.

Kondisi ini jelas disebabkan karena rendahnya literasi keuangan di kalangan muda ini. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK 2023–2024 menunjukkan:

  • Indeks literasi keuangan nasional: 49,68%
  • Indeks inklusi keuangan: 88,85%

Ini berarti masyarakat bisa mengakses produk keuangan, namun hanya separuh yang benar-benar memahami cara kerjanya. Pada generasi muda, kesenjangan antara “akses” dan “pemahaman” jauh lebih besar.

Mengapa Milenial dan Gen Z Rentan Mengambil Keputusan Keuangan yang Salah?

Literasi keuangan belum menjadi prioritas

Meski akrab dengan gadget, aplikasi keuangan, dan media sosial, banyak Milenial dan Gen Z belum memahami:

  • risiko bunga tinggi,
  • konsekuensi gagal bayar,
  • pentingnya dana darurat,
  • cara memilih investasi yang aman.

Akses ke informasi ada, tetapi kemampuan memfilter informasi keuangan yang benar masih rendah.

Budaya instan & FOMO (Fear of Missing Out)

Media sosial menciptakan tekanan gaya hidup yang tinggi. Banyak keputusan finansial dibuat karena:

  • ingin terlihat sukses,
  • mengikuti tren belanja,
  • mengejar gaya hidup influencer,
  • gengsi & fomo terhadap investasi viral.

Konsekuensinya: pengeluaran meningkat, utang konsumtif membengkak.

Salah kaprah dalam berinvestasi

Minat investasi generasi muda meningkat signifikan, namun:

  • banyak yang memulai berinvestasi tanpa belajar terlebih dahulu,
  • memilih instrumen berisiko tinggi karena ingin cepat kaya,
  • mengikuti influencer tanpa memvalidasi,
  • bahkan berutang demi “modal trading”.

Tidak heran bila OJK pun mencatat meningkatnya laporan kerugian investasi bodong dari pengguna berusia 21–35 tahun. Padahal kalangan ini seharusnya lebih cerdas.

Pendapatan yang tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup

Fakta makroekonomi:

  • Pertumbuhan gaji tahunan hanya sekitar 3–5%
  • Kenaikan biaya hidup perkotaan mencapai 6–8%

Ketidakseimbangan ini membuat generasi muda cenderung mencari “jalan pintas” melalui pinjol atau paylater. Namun akibatnya lebih parah dan semakin menjauhkan dari harapan.

Dampak Buruk Rendahnya Pengetahuan Keuangan

Terjebak utang sejak muda. Utang konsumtif yang menumpuk di usia awal karier bisa merampas kesempatan membangun:

  • tabungan,
  • aset jangka panjang,
  • investasi masa depan.

Skor kredit buruk. Kredit macet akan:

  • membuat pengajuan KPR ditolak,
  • sulit mendapatkan kredit kendaraan,
  • menghambat akses bisnis di masa depan.

Stres finansial & masalah kesehatan mental. Studi BI menunjukkan bahwa tekanan finansial adalah salah satu penyebab:

  • kecemasan,
  • stres berkepanjangan,
  • rendahnya produktivitas kerja.

Tidak mampu membangun fondasi finansial. Tanpa literasi yang baik, generasi muda kesulitan:

  • menyiapkan dana darurat,
  • mengatur cashflow,
  • merencanakan keuangan jangka panjang.

Solusi untuk Meningkatkan Literasi Keuangan Milenial & Gen Z

Edukasi keuangan sejak dini. Materi dasar yang perlu diajarkan:

  • budgeting & cashflow,
  • bunga & risiko utang,
  • konsep dana darurat,
  • prinsip investasi aman,
  • cara menghindari penipuan keuangan.

Dalam hal ini, keluarga, sekolah, kampus, dan platform digital perlu mengambil peran besar.

Transparansi lebih kuat dari fintech. Platform pinjol & paylater perlu:

  • menampilkan biaya secara jelas,
  • memberi edukasi dalam aplikasi,
  • menyediakan kalkulator kemampuan bayar,
  • mengirimkan peringatan jika cicilan melewati batas wajar.

Regulasi BI & OJK 2023–2024 sudah menuju ke arah ini, namun implementasi di lapangan butuh konsistensi.

Peran orang tua & lingkungan. Generasi muda kebanyakan belajar finansial dari: teman, media sosial, influencer, dan cenderung mengabaikan nasehat dari keluarga. Pendidikan keuangan berbasis keluarga sangat diperlukan, terutama dalam pengelolaan uang sehari-hari.

Mindset finansial yang lebih sehat. Generasi muda perlu membangun pola pikir:

  • bedakan kebutuhan vs keinginan,
  • utang hanya untuk hal produktif,
  • investasi bukan jalan pintas kaya,
  • gaya hidup bukan indikator kesuksesan.

Bangun fondasi finansial sebelum investasi. Sebelum masuk dunia saham, kripto, atau reksa dana, pastikan:

  1. Dana darurat 3–6 bulan.
  2. Utang konsumtif terkendali.
  3. Cashflow positif.
  4. Tujuan keuangan jelas.

Dengan fondasi yang kuat, risiko kerugian dan kredit macet bisa ditekan.


Kesimpulan: Literasi Keuangan adalah Kunci Masa Depan Generasi Muda

Data OJK dan BI menunjukkan bahwa Milenial dan Gen Z adalah kelompok paling rentan terhadap kredit macet pinjol dan paylater. Tingginya akses ke produk keuangan digital tidak seimbang dengan tingkat literasi keuangan yang memadai.

Jika tidak ditangani, generasi muda akan menghadapi:

  • utang berkepanjangan,
  • stress finansial,
  • kesulitan membangun aset,
  • masa depan finansial yang rentan.

Meningkatkan literasi keuangan adalah langkah paling penting untuk membangun masa depan generasi muda Indonesia yang lebih stabil, produktif, dan mandiri. (FK)

Anda punya masukan, informasi atau komentar? Sampaikan di sini..