5 Hal yang Tak Dilakukan Mereka yang Sukses Membangun Kekayaan

Membangun kekayaan bukan hanya tentang menghasilkan lebih banyak uang — tetapi juga tentang bagaimana menggunakan waktu. Individu yang paling sukses secara finansial telah menguasai rahasia seni membagi waktu, memahami bahwa aktivitas tertentu menghasilkan keuntungan sementara yang lain menguras sumber daya tanpa memberikan nilai tambah.

Berdasarkan penelitian keuangan dan wawasan para ahli, berikut adalah lima aktivitas yang biasanya dihindari oleh orang-orang yang terbukti sukses membangun kekayaan besar:

1. Media Massa dan Media Sosial

Bagi mereka media massa ataupun media sosial bisa diam-diam menjadi pembunuh pertumbuhan kekayaan yang sedang mereka pupuk. Menurut data statistik, rata-rata orang Amerika menghabiskan lebih dari tiga jam setiap hari untuk menonton televisi dan hampir dua setengah jam di media sosial. Ini berarti sekitar 35% dari waktu terjaga dihabiskan untuk konsumsi pasif daripada kegiatan produktif.

Yang membedakan orang kaya dari orang lain adalah pendekatan mereka secara waras terhadap media. Alih-alih browsing tanpa henti atau menonton secara maraton, mereka mengatur bacaan atau tontontan mereka agar selaras dengan tujuan mereka. Warren Buffett, misalnya, menghabiskan sekitar 80% harinya untuk membaca, tetapi ia hanya memilih materi yang dapat meningkatkan pengetahuan investasi dan kemampuan pengambilan keputusannya.

Minimalisir digital telah menarik perhatian di kalangan orang-orang yang berprestasi tinggi karena alasan yang tepat. Sebuah studi dari Journal of Behavioral Addictions menemukan bahwa membatasi penggunaan media sosial cukup 30 menit setiap hari secara signifikan mengurangi rasa kesepian dan depresi sekaligus meningkatkan aktivitas yang produktif. Pengalihan waktu ini menciptakan peluang untuk aktivitas membangun kekayaan seperti bisnis sampingan, mempelajari keterampilan yang dapat dipasarkan, atau mengelola investasi.

Orang-orang yang sukses secara finansial tidak serta-merta menghilangkan media—mereka mengubahnya menjadi alat bantu, bukan untuk memboroskan waktu. Mereka mendengarkan podcast edukasi selama perjalanan, membaca publikasi industri, atau menggunakan media sosial secara strategis untuk berjejaring dan belajar, tidak untuk sekadar hiburan.

2. Tawaran Jalan Pintas untuk Kaya

Daya tarik kekayaan dalam semalam telah memikat banyak orang, namun mereka yang membangun kekayaan yang bertahan lama menyadari bahwa jalan pintas ini lebih merupakan penghancur kekayaan. Data Komisi Perdagangan Federal menunjukkan bahwa warga Amerika kehilangan lebih dari $5,7 miliar akibat penipuan investasi dalam beberapa tahun terakhir, dengan janji-janji “keuntungan pasti terjamin” dan “peluang eksklusif” yang sebetulnya telah menjadi ciri umum penipuan.

Baca juga: Mengenali Penipuan Investasi

Akumulasi kekayaan yang baik sebetulnya mengikuti pola yang dapat diprediksi, meskipun mungkin tidak menarik. Sebuah studi penting oleh Sarah Stanley Fallaw, penulis “The Next Millionaire Next Door,” menemukan bahwa investasi yang konsisten dalam aset yang terdiversifikasi dari waktu ke waktu, jauh lebih efektif dibanding investasi spekulatif. Cara ini telah mencirikan kebiasaan para jutawan yang merintis usaha sendiri.

Hitungan matematis penggandaan menjelaskan mengapa kesabaran berinvestasi mengalahkan perjudian spekulatif. Rutin berinvestasi sebesar Rp500.000 per bulan yang tumbuh sebesar 8% saja per tahun akan menjadi lebih dari Rp745.000.000 dalam 30 tahun. Sementara itu, data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa sekitar 90% trader harian kehilangan uang. Hal ini mengungkap statistik kesia-siaan trader eceran yang mencoba untuk “mengalahkan pasar” melalui perdagangan yang sering tanpa keunggulan profesional dan sistem dengan harapan positif.

Orang kaya mengutamakan strategi investasi berbasis bukti dengan rekam jejak yang terbukti. Mereka memahami bahwa kekayaan berkelanjutan dihasilkan dari penciptaan nilai, pertumbuhan majemuk, dan waktu — dan bukan melalui jalan pintas yang menjanjikan keuntungan cepat. Fokus mereka tetap pada sistem yang bekerja secara terprediksi, bukan pada metode yang mungkin sesekali berhasil.

3. Analisa yang Melumpuhkan: Overthinking Menghalangi Pertumbuhan Kekayaan

Perfeksionisme dan pertimbangan yang berlebihan dapat menjadi pembunuh kekayaan, sama seperti pilihan finansial yang buruk. Penelitian dari ekonomi perilaku menunjukkan bahwa berpikir berlebihan sering kali memberi hasil yang lebih buruk daripada membuat keputusan yang cukup matang dan menyesuaikan arah sesuai kebutuhan.

Studi perilaku keuangan menemukan bahwa analisis yang berlebihan dan banyaknya pilihan investasi dapat menyebabkan “kelumpuhan pilihan”, yang menyebabkan investor menunda keputusan dan berpotensi kehilangan peluang yang menguntungkan, yang dapat berdampak negatif pada hasil investasi.

Hal ini mencerminkan apa yang disebut psikolog sebagai “the paradox of choices“—ketika dihadapkan dengan terlalu banyak opsi atau data, orang sering kali membuat keputusan yang lebih buruk atau tidak membuat keputusan sama sekali.

Kesuksesan finansial sering kali datang dari tindakan yang diperhitungkan, walau bukan persiapan yang sempurna. Miliarder yang merintis usahanya sendiri, Richard Branson, mengaitkan sebagian besar kesuksesannya dengan kemauannya untuk bertindak atas peluang dengan informasi yang terbatas.

“Jika seseorang menawarkan Anda peluang yang luar biasa, tetapi Anda tidak yakin dapat melakukannya, katakan ya—lalu pelajari cara melakukannya nanti.” – Richard Branson

Banyak kemenangan finansial datang dari waktu, bukan kesempurnaan. Misalnya, seseorang yang berinvestasi secara tidak sempurna di pasar selama pemulihan setelah krisis keuangan 2008 atau 2018 masih jauh lebih baik daripada seseorang yang menunggu “momen yang tepat” yang tidak pernah terwujud. Prinsip nilai waktu uang menunjukkan bahwa tindakan awal yang tidak tepat sering kali lebih baik daripada tindakan sempurna yang tertunda.

4. Hubungan yang Toxic: Bom Waktu bagi Kekayaan Anda

Penelitian psikologi keuangan semakin mengakui bahwa membangun kekayaan adalah fenomena sosial. Penelitian dalam Journal of Consumer Research dan literatur psikologi konsumen terkait telah menemukan bahwa kebiasaan belanja, perilaku menabung, dan keputusan investasi dipengaruhi secara signifikan oleh faktor sosial, termasuk preferensi dan perilaku rekan dekat, kerabat, atau kelompok pergaulan.

Pengaruh sosial ini dapat membentuk pilihan konsumen melalui isyarat informasi, standar normatif, dan keinginan untuk mempertahankan hubungan positif, yang menyebabkan individu sering kali meniru perilaku keuangan orang-orang di sekitar mereka. Efeknya bisa menjadi lebih baik atau terkadang menjadi lebih buruk.

Penelitian Thomas Stanley untuk “The Millionaire Next Door” mengungkapkan bahwa jutawan rintisan mengatur dengan cermat lingkaran sosial mereka, membatasi waktu dengan orang-orang yang meningkatkan konsumsi (sumber daya) ketimbang meningkatkan nilai kesejahteraan. Mereka mengelilingi diri mereka dengan orang-orang yang memperkuat perilaku keuangan yang disiplin.

Konsep keuangan menular (financial contagion) menunjukkan bagaimana perilaku keuangan menyebar melalui jaringan sosial. Sebuah studi National Bureau of Economic Research menemukan bahwa individu lebih cenderung menabung dan berpartisipasi dalam perilaku keuangan yang cerdas ketika mereka memiliki teman-teman dengan pendapatan yang lebih tinggi. Hal ini menyoroti hubungan yang signifikan antara kebiasaan keuangan jaringan sosial seseorang dan perilaku menabung pribadi, yang menunjukkan pengaruh mendalam dari kelompok sebaya terhadap hasil keuangan.

Orang-orang yang sukses finansial menyadari saat hubungan menguras sumber daya tanpa memberikan nilai tambah. Mereka menetapkan batasan yang jelas dengan mereka yang terus-menerus mencari dukungan finansial tanpa timbal balik. Alih-alih mempertahankan hubungan yang menguras energi, mereka memilih membangun hubungan dengan mentor, rekan sejawat yang berpikiran sama, dan individu yang kebiasaan finansialnya mereka kagumi.

5. Mindset Korban: Sikap Mental yang Menjauhkan dari Kekayaan

Barangkali penerawang paling signifikan dari kesuksesan finansial adalah apa yang disebut oleh para psikolog sebagai “lokus kendali” yaitu tingkat keyakinan seseorang bahwa dia mengendalikan hasil yang bisa dicapai dan bukan dikendalikan oleh oleh hal-hal eksternal. Penelitian dari Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan bahwa individu dengan lokus kendali internal memperoleh lebih banyak penghasilan, menabung lebih banyak, dan mengumpulkan kekayaan lebih besar selama hidup mereka.

Lokus internal ini terwujud sebagai tanggung jawab pribadi, dan menghindari menyalahkan pihak luar. Ketika menghadapi kemunduran, para pembangun kekayaan bertanya, “Apa yang dapat saya pelajari?” dan “Bagaimana saya dapat meningkatkannya?” Mereka tidak berkata “Mengapa hal ini selalu terjadi pada saya?” Orientasi terhadap pertumbuhan alih-alih menjadi korban ini menciptakan ketahanan dalam menghadapi tantangan finansial yang tak terelakkan.

Konsep “optimisme yang dipelajari,” yang dipelopori oleh psikolog Martin Seligman, telah dikaitkan dengan kesuksesan finansial yang lebih besar. Ini bukan sikap positif yang membabi buta, melainkan pendekatan praktis terhadap kemunduran yang berfokus pada masalah sementara dan spesifik, bukan masalah permanen dan meluas.

Psikolog keuangan Brad Klontz menemukan bahwa banyak keyakinan mindset yang menghalangi kekayaan justru berasal dari pengalaman masa kecil dan sosialisasi. Dengan mengenali dan secara sadar melawan keyakinan ini melalui apa yang disebut Harvard Business Review sebagai thought work (pekerjaan pikiran) memungkinkan individu untuk mengembangkan sikap kerja mental yang lebih kondusif bagi penciptaan kekayaan.

KESIMPULAN

Membangun kekayaan membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan finansial. Dalam hal ini dituntut pula penggunaan sumber daya kita yang paling berharga yaitu waktu. Siapa pun dapat meningkatkan potensi membangun kekayaan secara signifikan dengan menghindari konsumsi media yang tidak masuk akal, menolak skema cepat kaya, mengatasi kelumpuhan analisis, membina hubungan yang sehat, dan mengembangkan mindset yang tepat.

Jalan menuju kesuksesan finansial bukanlah jalan yang misterius atau hanya diperuntukkan bagi beberapa orang terpilih. Pada dasarnya, ini tentang membuat pilihan yang sadar tentang pengeluaran uang dan waktu. Menghilangkan aktivitas negatif yang menguras kekayaan menciptakan upaya yang terfokus, pembelajaran berkelanjutan, dan konsistensi yang disiplin, membangun kemakmuran yang langgeng.

Langkah yang paling penting adalah mengenali pembuang waktu mana yang dapat membatasi pertumbuhan finansial Anda dan mengambil tindakan tegas untuk mengalokasikan kembali waktu tersebut ke aktivitas yang menambah pengetahuan, keterampilan, jaringan sosial, dan, pada akhirnya, kekayaan Anda.

Poin mana yang menarik perhatian Anda?
Silahkan bagikan artikel ini ke relasi atau keluarga yang ingin Anda inspirasi sukses juga.

    Anda punya masukan, informasi atau komentar? Sampaikan di sini..